Minggu, 20 Oktober 2013

Manajemen Emosi Ibu Menyusui

 
Seringkali kita mendengar ucapan “happy breastfeeding” atau “enjoy breastfeeding” sebagai tanda penyemangat bagi para ibu yang sedang menyusui anaknya. Kenapa ibu menyusui perlu disemangati dan merasa bahagia? Karena produksi ASI salah satunya berkaitan dengan hormon oksitosin dimana hormon ini akan bekerja jauh lebih baik jika ibu berada pada kondisi bahagia dan tenang.


Manajemen Emosi Ibu Menyusui
Agar hormon oksitosin dapat bekerja dengan lancar, maka ibu menyusui perlu mengelola emosi-emosi di dalam dirinya. Berikut ini merupakan cara agar ibu dapat menyusui dengan perasaaan senang dan bahagia:

1. Banyak istirahat 

Melahirkan adalah proses yang mengeluarkan banyak energi. Oleh karena itu, untuk memulihkan tenaga, seorang ibu perlu banyak istirahat. Mintalah bantuan suami atau keluarga untuk menjaga bayi sementara ibu sedang istirahat. Waktu yang cukup untuk istirahat akan memberikan dampak yang besar bagi pemulihan diri secara fisik, emosi dan mental. Menyusui pun menjadi lebih tenang dengan banyak istirahat.

2. Menanggulangi rasa sakit ketika menyusui

Para ibu yang baru menyusui bayinya terkadang merasakan sakit pada puting. Untuk menanggulangi hal tersebut, ibu dapat mengoleskan ASI di sekitar puting. Selain itu, ibu dapat mengubah posisi setiap kali menyusui sehingga ibu tidak mengalami rasa sakit secara terus menerus di tempat yang sama. Cobalah menyusui dengan sering, tetapi dengan jangka waktu yang sebentar. Karena jika jarang menyusui, bayi akan lebih lapar dan membuat puting lebih sakit. Pada awal menyusui, ibu terkadang juga mengalami pembengkakan payudara. Hal ini dapat diatasi dengan mandi air hangat atau kompres dengan kol dingin.

3. Mendekatkan diri dengan bayi

Hubungan perasaan dan curahan kasih sayang ibu terhadap bayi juga dapat memicu hormon oksitosin. Misalnya, memeluk dan mencium bayi, kontak mata dan kontak kulit. Meski terkadang tidak mudah untuk menjalin hubungan baik tersebut, adanya bantuan dari pihak lain akan sangat membantu proses menyusui.


4. Makan makanan favorit
Ibu menyusui disarankan untuk makan makanan yang bervariasi dan seimbang. Selain itu, ibu menyusui perlu lebih banyak mengkonsumsi air putih. Beberapa pantangan bagi ibu menyusui adalah minuman beralkohol, mengandung kafein, dan soda. Makanan yang dapat memicu alergi juga sebaiknya dihindari. Selain itu, ibu menyusui tidak memiliki pantangan makanan, bahkan makan makanan favorit dapat membuat ibu lebih banyak memproduksi ASI.

5. Relaksasi
Berbagai latihan yang bersifat merilekskan maupun menenangkan seperti meditasi, yoga, dan relaksasi progresif dapat membantu memulihkan ketidakseimbangan saraf dan hormon dan memberikan ketenangan alami.

6. Sentuhan dan Pijatan
Ketika menyusui, terkadang ibu mengalami ketegangan di punggung, bahu dan leher. Cobalah untuk melemaskan atau memijat bagian tersebut setelah menyusui agar dapat menghilangkan otot yang kaku dan tegang. Ibu juga dapat meminta bantuan suami untuk memijat bagian yang kaku. Adanya sentuhan atau pijatan dari orang lain juga dapat membantu mengalirkan ketenangan dan mengurangi rasa sakit pada ibu menyusui.

7. Tersenyum dan tertawa
Jangan meremehkan kekuatan dari tersenyum dan tertawa setelah melahirkan. Para peneliti mengatakan bahwa senyuman dapat mengencangkan otot di pipi yang mengalirkan darah ke otak dan memicu pikiran positif. Setiap ibu memiliki caranya masing-masing untuk membuat dirinya tetap senang. Misalnya, menonton film komedi, mengobrol dengan suami dan keluarga, membaca buku, dan lain-lain.

8. Dukungan suami dan keluarga
Ketika ibu mulai menyusui, ibu membutuhkan lingkungan yang mendukung. Pada saat inilah, suami dan keluarga perlu mengambil peran untuk mendukung ibu menyusui. Hal yang terpenting adalah ibu membutuhkan suasana dan lingkungan yang kondusif demi keberhasilan memberikan ASI.
Semoga cara-cara di atas dapat membantu ibu menyusui untuk merasa bahagia sehingga proses produksi dan aliran ASI tetap lancar. Happy breastfeeding….:) HF. 1
Sumber :
http://mrschaerulshobar.wordpress.com/2013/07/03/menyusuilah-dengan-bahagia-2/

Senin, 07 Oktober 2013

Masalah Haid (AMENOREA)

A M E N O R E A

Amenorea

Amenoria adalah keadaan tidak terjadinya menstruasi pada seorang wanita. Hal tersebut normal terjadi pada masa sebelum pubertas, kehamilan dan menyusui dan setelah menopause. Siklus menstruasi normal meliputi interaksi antara kompleks hipotalamus-hipofisi-aksis indung telur organ reproduksi yang sehat. Amenorea terbagi menjadi dua , yaitu :
  1. Amenorea Primer yaitu keadaan tidak terjadinya menstruasi pada wanita usia 16 tahun. Amenorea primer terjadi pada 0,1 - 2,5 % wanita usia reproduksi.
  2. Amenorea Sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 siklus (pada kasus oligomenorea < jumlah darah menstruasi sedikit >), atau 6 siklus setelah sebelumnya mendapatkan siklus menstruasi biasa. Angka kejadian berkisar antara 1-5%.
Penyebab Amenorea
Penyebab tersering dari amenorea primer adalah Pubertas terlambat, Kegagalan dari fungsi indung telur, Agenesis uterovaginal (tidak tumbuhnya organ rahim dan vagina), Gangguan pada susunan saraf pusat, Himen imperforata yang menyebabkan sumbatan keluarnya darah menstruasi dapat diperkirakan apabila wanita memiliki rahim dan vagina normal.
Gambar 1. Himen Imperforata

Penyebab terbanyak dari amenorea sekunder adalah kehamilan, setelah kehamilan, menyusui, dan penggunaan metode kontrasepsi disingkirkan, maka penyebab lainnya adalah Stress dan depresi, Nutrisi yang kurang, penurunan berat badan berlebihan, olahraga berlebihan, obesitas, gangguan hipotalamus dan hipofisis, gangguan indung telur, obat-obatan, penyakit kronik dan sindrom Asherman.
Gambar 2. Komplek hipotalamus-hipofisi-aksis indung telur


Tanda dan Gejala Amenorea
Tanda amenorea adalah tidak didapatnya menstruasi pada usia 16 tahun, dengan atau tanpa perkembangan seksual sekunder (perkembangan payudara, perkembangan rambut pubis), atau kondisi dimana wanita tersebut tidak mendapatkan menstruasi padahal sebelumnya pernah mendapatkan menstruasi. Gejala lainnya tergantung dari apa yang menyebabkan terjadinya amenorea. Perkembangan pubertas pada wanita normal digambarkan melalui Stadium Tanner yaitu :

Usia
Perkembangan
Payudara
Perkembangan
Rambut Pubis
Stadium Tanner
(Perkembangan Payudara)
Stadium Tanner
(perkembangan rambut Pubis)
Pertumbuhan Awal
(8-10 tahun)
Papila payudara
mulai menggunung
Belum ada rambut pubis
1
1
Thelarche (9-11)
Seperti Adrenarche
untuk Stadium 2
Seperti Adrenarche
untuk Stadium 2
2
1
Adrenarche (9-11)
2
2
Puncak Pertumbuhan
(11-13)
3
3
Menarche
(12-14)
4
4
Dewasa
(13-16)
5
6

Pemeriksaan Penunjang
Pada amenorea primer, apabila didapatkan adanya perkembangan seksual sekunder maka diperlukan pemeriksaan organ dalam reproduksi (indung telur, rahim, perlekatan dalam rahim) melalui pemeriksaan USG, histerosalpingografi, histeroskopi dan Magnetic Resonance Imaging (MPI). Apabila tidak didapatkan tanda-tanda perkembangan seksualitas sekunder maka diperlukan pemeriksaan kadar hormon FSH dan LH.
Setelah kemungkinan kehamilan disingkirkan pada amenorea sekunder, maka dapat dilakukan pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) karena kadar hormon tiroid dapat mempengaruhi kadar hormon prolaktin dalam tubuhjuga perlu diperiksa. Apabila kadar hormon TSH dan prolaktin normal, maka Estrogen/ Progestogen Challenge Test adalah pilihan untuk melihat kerja hormon estrogen terhadap lapisan endometrium dalam rahim. Selanjutnya dapat dievaluasi dengan MRI.

Terapi
Pengobatan yang dilakukan sesuai dengan penyebab dari amenorea yang dialami, apabila penyebabnya adalah obesitas, maka diet dan olahraga adalah terapinya. Belajar untuk mengatasi stress dan menurunkan aktivitas fisik yang berlebihan juga dapat membantu.

Sumber : http://www.klikdokter.com/rubrikspesialis/read/14/kesehatankewanitaan/2010/07/05/4/amenorea#.UlQnsCdlvF4

RSIA Lembayung Husada
"Setulus Hati Kami Melayani"

Jl. A. Yani Km. 36 RT. 03 RW. 01 Simpang Empat Banjarbaru Kal-Sel
Telp : (0511) 4777115/ 4774982
Fax : (0511) 4773280
Email : rsia_lembayunghusada@yahoo.co.id

Minggu, 22 September 2013

Balita Gemuk Bukan Berarti Sehat ,, Hitung BBI nya..

Kita sering beranggapan bahwa balita yang gemuk itu lucu dan menggemaskan. Kita sebagai orang tua bangga jika memiliki balita yang gendut dan montok. Namun sayangnya persepsi bahwa anak gemuk itu pasti sehat ternyata tidak benar. Padahal tidak selalu anak yang gemuk dan montok itu sehat. Seperti halnya anak yang terlihat kurus belum tentu tidak sehat atau kurang gizi. Ukuran sehat itu bukan dari bentuk tubuh terlihat gemuk atau pun kurus.Tubuh yang sehat dan ideal adalah berat badan yang pas dengan usia sang balita. "Penampakan" tubuh anak tidak bisa semata-mata menjadi parameter ukuran ideal tubuh balita, atua untuk mengukur terpenuhinya kebutuhan nutrisi. Balita yang gemuk memikiki banyak sekali risiko kesehatan yang dapat timbul, antara lain :
  • Gangguan penyakit hati (pengerutan jaringan hati, bahkan kanker hati)
  • Penyumbatan atau gangguan saluran pernapasan ketika tidur, dengan gejala mengompol sampai mengorok
  • Usia yang lebih pendek daripada generasi orang tuanya. Kemungkinan ini terligat dari berbagai risiko penyakit yang lebih mudah hinggap pada anak-anak yang kegemukan
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti pembesaran jantung atau peningkatan tekanan darah
  • Gangguan metabolisme glukosa. Misalnya intoleransi glukosa
  • Gangguan kedudukan tulang, berupa kaki pengkor atau tergelincirnya bagian sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki)
  • Gangguan kuli, khususnya di daerah lipatan akibat sering bergesekan
  • Gangguan mata seperti penglihatan ganda, terlalu sensitif terhadap cahaya, dan batas pandangnya menjadi lebih sempit
Ciri-ciri kegemukan balita yang perlu diwaspadai :
  • Wajah membulat
  • Pipi tembem
  • Dagu rangkap
  • Leher relatif pendek
  • Dada membusung, dengan payudara yang membesar karena mengandung jaringan lemak
  • Perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat
  • Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan, akibatnya menimbulkan lecet
  • Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan lemak
Bagaimana mengatasi kegemukan balita ?
  • Atur pola makan balita. Pilih menu makanan si kecil dengan zat-zat gizi yang seimbang, juga jumlah makanannya harus pas.
  • Aktivitas fisik. Dengan beraktivitas fisik, energi yang keluar diharapkan bisa seimbang dengan banyaknya makanan yang dikonsumsi.
  • Pencegahan kegemukan pada balita sebenarnya bisa dimulai dari pemberian ASI secara ekslusif. Karena pemberian ASI tidak akan membuat intake susu balita berlebihan.
Lantas, bagaimaan rumus paling mudah untuk menghitung berat badan ideal/ BBI anak, berikut rumusnya :
Berat Badan Ideal Bayi usia 0-12 bulan


BBI = (Umur/2) + 4       ===> Umur dalam satuan bulan
Berat Badan Ideal Anak usia 1-10 tahun
BBI = (Umur*2) + 8      ===> Umur dalam satuan tahun

Tabel berikut merupakan rangkuman berat badan anak normal sesuai usianya, yang diambil dari tabel pertumbuhan anak menurut WHO. Pada tabel dibedakan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang memiliki nilai normal masing-masing.
  • Anak yang berada antara batas bawah dan batas atas - tergolong berat badan normal sesuai usianya
  • Anak yang beratnya berada di bawah batas bawah - tergolong underweight (berat badan kurang)
  • Anak yang beratnya berada di atas batas atas - tergolong overweight (kelebihan berat badan)
  Gambar 1 : Tabel berat badan anak normal sesuai usianya

Grafik pertumbuhan standar yang digunakan untuk menilai pertambahan berat badan bayi disusun oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia, grafik ini dituangkan ke dalam bentuk Kartu Menuju Sehat (KMS) atau buku kesehatan ibu dan anak (KIA), bentuknya growth chart atau tabel berat badan, tinggi badan (BB/TB), dan lingkar kepala yang dapat ibu peroleh di posyandu, puskesmas, bidan atau dokter. Berikut cara membaca growth chart :
  • Ukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala anak.
  • Cantumkan tanda berupa titik masing-masing di hasil pengukuran di kurva Pertambahan Berat Badan, Kurva Pertambahan Tinggi Badan dan Kurva Lingkar Kepala.
  • Bila titik berada di area hijau yang paling terang, artinya BB atau TB anak baik. Diluar area tersebut, asalkan masih di area hijau, masih normal. Jika titik berada di area merah, ibu harus waspada
  • Hubungkan dengan sebuah garis, titik BB/TB anak saat ini dengan titiuk BB/TB hasil pengukuran bulan lalu. Bandingkan apakah garis yang menghubungkan kedua titik tersebut posisinya naik (meningkat), yang berarti keadaan gizi anak baik karena ia bertumbuh. Bila garis mendatar, atau bahkan turun tanda pertumbuhannya kurang baik.
  • Bila berat anak tidak naik atau kenaikan tidak sesuai seharusnya jangan langsung panik. Tunggu hingga 56 hari (untuk bayi usia di bawah 5 bulan), atau 90 hari (untuk bayi usia di atas 5 bulan). Jika keadaan tidak membaik, grafik tetap statis, konsultasikan dengan dokter, apakah pertumbuhannya lambat akibat pola makan yang kurang baik, penyakit, atau gangguan hormon pertumbuhan.
Contoh : Bebe (2 tahun 1 bulan) berat 10 kg, tinggi 73 cm.
  • Cukupkah beratnya? Berdasarkan Growth Chart, BB ideal dengan ukuran TB tersebut adalah 9,5 kg. Berat Bebe sudah 105% dari BB ideal. Anak disebut ‘berstatus gizi baik” bila berada dalam kisaran 90-110% BB ideal. Jadi, berat badan Bebe sudah cukup. 
  • Cukupkah tingginya? TB rata-rata anak perempuan usia 2 tahun 1 bulan adalah 86 cm dengan batsa bawah (ukuran tinggi yang masih bisa ditolerir) 80 cm. Karena tinggi Bebe 73 cm, tergolong pendek atau tinggi badannya kurang. 
 
Rumus menghitung Tinggi Badan (TB)
Perkiraan TB anak secara genetika. Rentang 8,5 cm kurang atau lebih dari hasil rumus tersebut masih normal.

TB anak laki-laki = (TB ibu + TB ayah + 13)
                         -----------------------
                                        2

TB anak perempuan = (TB ibu + TB ayah – 13)
                              ------------------------
                                              2

Contoh:
TB ayah 180 cm, TB ibu 155 cm.
TB anak laki-laki kelak: 174 cm.
TB anak perempuan kelak: 161 cm.

Jumat, 23 Agustus 2013

BLIGHTED OVUM DALAM KEHAMILAN

Gambar 1 : Kehamilan dengan Blighted Ovum

Gambar 2 : Kehamilan Normal

BLIGHTED OVUM

Blighted Ovum atau yang dikenal sebagai kehamilan tanpa embrio atau kehamilan kosong. Pada saat terjadi pembuahan, sel-sel tetap membentuk kantung ketuban, plasenta, namun telur yang telah dibuahi (konsepsi) tidak berkembang menjadi sebuah embrio. Pada kondisi blighted ovum kantung kehamilan akan terus berkembang, layaknya kehamilan biasa, namun sel telur yang telah dibuahi gagal untuk berkembang secara sempurna, maka pada ibu hamil yang mengalami blighted ovum, akan merasakan bahwa kehamilan yang dijalaninya biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu karena memang kantung kehamilan berkembang seperti biasa. Pada saat awal kehamilan, produksi hormon HCG tetap meningkat, ibu hamil ketika dites positif, juga mengalami gejala seperti kehamilan normal lainnya, mual muntah, pusing-pusing, sembelit dan tanda-tanda awal kehamilan lainnya. Namun ketika menginjak usia kehamilan 6-8 minggu, ketika ibu hamil penderita blighted ovum memeriksakan kehamilan ke dokter dan melakukan pemeriksaan USG maka akan terdeteksi bahwa terdapat kondisi kantung kehamilan berisi embrio yang tidak berkembang. jadi gejala blighted ovum dapat terdeteksi melalui pemeriksaan USG atau hingga adanya perdarahan layaknya mengalami gejala keguguran mengancam (abortus iminens) karena tubuh berusaha mengeluarkan konsepsi yang tidak normal.
Blighted ovum atau kehamilan kosong ini, kadang disebagian masyarakat ada yang menghubungkannya dengan hal-hal mistik. Ada yang mengatakan kehamilannya hilang dibawa oleh makhluk halus atau bayinya dipindahkan ke orang lain, dll. Karena memang kesannya bayinya menghilang, padahal ibu hamil yang mengalami blighted ovum mengalami tanda-tanda dan perubahan-perubahan tubuh layaknya kehamilan normal, namun ketika di cek USG janinnya tidak ada/ tidak berkembang. namun tentunya semua hak mistik itu tidak benar adanya.

GEJALA DAN TANDA

Blighted ovum sering tidak menyebabkan tanda sama sekali . Gejala dan tanda-tanda mungkin termasuk :
  • Periode menstruasi terlambat
  • Kram perut
  • Minor vagina atau bercak perdarahan
  • Tes kehamilan positif pada saat gejala
  • Ditemukan setelah akan terjadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan
  • Hampir sama dengan kehamilan normal
  • Gejala tidak spesifik (perdarahan spotting coklat kemerah-merahan, kram perut, bertambahnya ukuran rahim yang lambat)
  • Tidak sengaja ditemukan dengan USG
DIAGNOSIS
  1.  Anamnesia (tanda-tanda kehamilan)
  2. Pemeriksaan fisik
  3. Pemeriksaan penunjang USG (diagnosis pasti)
Diagnosis kehamilan embrionik bisa dilakukan saat kehamilan memasuki usia 6-7 minggu. Sebab saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga tampak, adanya kantung kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin. Diagnosis kehamilan anembriogenik dapat ditegakkan bila pada kantong gestasi yang berdiameter sedikitnya 30 mm. tidak dijumpai adanya struktur mudigah dan kantong kuning telur.

FAKTOR PENYEBAB BLIGHTED OVUM

Blighted ovum terjadi pada saat awal-awal kehamilan. Penyebab dari blighted ovum sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun yang sering terjadi adalah kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur (ovum) dan sel sperma, dengan angka statistik mencapai 60%. Proses alamiah kerusakan kromosom ini terjadi ketika kromosom-kromosom yang membentuk janin tersebut rusak atau terganggu, sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan genetik yang serius. Lalu, tubuh kita akan mengenali abnormalitas kromosom ini, dan secara alami juga akan berusaha mengakhiri kehamilan yang sedang berlangsung dengan proses keguguran spontan.
Disamping faktor di atas, blighted ovum juga dapat terjadi karena adanya sebab lain seperti adanya infeksi TORCH, streptokokus, diabetes melitus (kencing manis) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar hormon pembentuk placenta beta HCG (Human Chorionic Gonadotropin) serta faktor imunologis (terbentuknya antibodi terhadap janin). TORCH adalah istilah yang merujuk pada infeksi yang disebabkan oleh virus/parasit yang terdiri dari Toksoplasma (Toxoplasma gondii), Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II) pada wanita hamil.

PENCEGAHAN
 
Pencegahan infeksi Toxoplasma Gondii dapat dilakukan dengan dua cara yakni pencegahan primer dan pencegahan sekunder. 
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk pencegahan primer infeksi Toxoplasma Gondii selama kehamilan diantaranya :
  1. Masak daging dengan baik atau secara menyeluruh sampai suhu 67°C (153°F), daging tidak harus "pink" di tengah
  2. Perhatikan bahwa daging yang diasap, direndam dalam air garam, atau kering masih dapat infeksius
  3. Hindari kontak dengan lendir saat memegang daging mentah
  4. Cuci tangan dengan hati-hati setelah kontak dengan daging mentah
  5. Permukaan dapur dan peralatan yang telah kontak dengan daging mentah harus dicuci mengenakan sarung tangan
  6. Hindari dari menguliti atau menyembelih hewan
  7. Hindari kontak dengan bahan yang berpotensi terkontaminasi dengan kotoran kucing, terutama saat menangani kotoran kucing atau berkebun, mengenakan sarung tangan dianjurkan bila kegiatan ini tidak dapat dihindari
  8. Disinfektan kotak sampah kucing yang kosong dengan air mendidih selama 5 menit sebelum mengisi ulang
  9. Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi
  10. Hindari minum air yang berpotensi terkontaminasi dengan ookista
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan pemeriksaan serologis untuk mengidentifikasi wanita yang mendapat infeksi T. gondii selama kehamilan, dan jika infeksi janin terdeteksi dengan tes kehamilan, pilihan terapi termasuk penghentian kehamilan dan perawatan antibiotik janin dalam rahim, harus didiskusikan dengan pasien.
Dalam banyak kasus blighted ovum tidak bisa di cegah atau dihindari. Beberapa pasangan seharusnya melakukan tes genetika dan konseling jika terjadi keguguran berulang di awal kehamilan. Blighted ovum sering merupakan kejadian satu kali, dan jarang terjadi lebih dari satu kali pada wanita. Untuk mencegah terjadinya blighted ovum, maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan TORCH, imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil, bila menderita penyakit disenbuhkan dulu, dikontrol gula darahnya, melakukan pemeriksaan kromosom terutama bila usia di atas 35 tahun, menghentikan kebiasaan merokok agar kualitas sperma/ovum baik, memeriksakan kehamilan yang rutin dan membiasakan pola hidup sehat.
PENANGANAN
 
Untuk penanganan kehamilan blighted ovum tidak ada jalan lain kecuali mengeluarkan hasil konsepsi dari dalam rahim. Caranya bisa dilakukan dengan kuretase atau dengan menggunakan obat. Namun kuretase dianggap memiliki kelebihan karena dapat mencegah terjadinya infeksi dan juga pemeriksaan kromosom.
Perlu diketahui, blighted ovum tidak berpengaruh terhadap rahim ibu atau terhadap masalah kesuburan. Seseorang yang pernah mengalami blighted ovum dapat kembali hamil normal. Namun, jika ibu mengalami blighted ovum berulang, baiknya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan yang intensif, karena dikhawatirkan adanya kelainan kromosom yang menetap pada diri ibu atau suami. Dokter mungkin menyarankan untuk dilakukan tes genetika atau juga dilakukannya terapi selama 1-3 bulan sebelum mencoba hamil kembali, tergantung dari kondisi hasil pemeriksaan dokter.
Sumber :

  1. Mengenal Kehamilan Kosong atau Blighted Ovum (BO) http://bidanku.com/index.php?/mengenal-kehamilan-kosong-atau-blighted-ovum-bo#ixzz2ctxsPdfE
  2. http://lilykasim-health-institute.blogspot.com/2011/04/penyebab-blight-ovum-atau-kehamilan.html 
  3. http://ferryfawziannor.blogspot.com/2011/08/toxoplasmosis-penyebab-blighted-ovum.html 


     Setulus Hati Kami Melayani"
    RSIA Lembayung Husada
    Jln. A. Yani KM. 36 Simpang Empat Banjarbaru
    Telp: (0511) 4777115/ 4774982 Fax; (0511) 4773280